Home / Jalan-Jalan / Pesona Malam Lawang Sewu
pesona lawang sewu malam hari

Pesona Malam Lawang Sewu

Setelah menempuh perjalanan selama 6 jam dengan menggunakan kereta api dari Stasiun Gambir Jakarta, akhirnya sampailah saya di Stasiun Semarang Tawang. Tanpa teman maupun saudara, sore itu membuat saya sempat kebingungan melangkahkan kaki untuk mencari tempat bermalam.  Namun, dengan bantuan jasa ojek online, akhirnya saya sampai juga di alamat penginapan yang telah direkomendasikan seorang teman.  

Tak terasa, jarum jam telah menunjukkan pukul 8 malam. Rasa lapar pun mulai menghampiri perut ini. Tanpa pikir panjang lagi, tanganpun  langsung membuka kembali aplikasi ojek online untuk membawa saya ke sebuah tempat makan di Jalan Pemuda, Semarang.

Belum sempat sampai di lokasi, tiba-tiba mata ini langsung tertuju ke sebuah bangunan tempo dulu yang berdiri megah di bibir jalan. Seakan menjadi pemandu, pengemudi ojek ini berucap kepada saya, “Ini namanya Lawang Sewu mas. Ikon pariwisatanya kota Semarang.”

Mendengar nama Lawang Sewu, di dalam otak saya langsung terbesit sebuah bangunan tua yang memiliki cerita angker di dalamnya. Apalagi jika malam ini adalah malam Jumat yang kononya bisa menambah kesan mistis di sekitar gedung tua tersebut. Tentunya, cerita ini pun telah tersebar bukan hanya ke telinga saya, namun, ke telinga kalian juga pastinya.

Penasaran dengan cerita tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti di depan gedung tersebut. Awalnya hanya ingin mengabadikan moment dari luar saja, namun, entah mengapa saya pun akhirnya tertarik untuk masuk ke dalamnya.

Melihat jam operasional Lawang Sewu yang masih buka hingga pukul 9 malam, saya pun langsung membayar tiket masuk sebesar Rp.10.000/orangnya. Tak perlu waktu lama, pemandu pun langsung menawarkan jasanya kepada saya. Namun, karena ingin menikmati kesunyian suasana yang ada, saya pun lebih memilih untuk berkeliling seorang diri.

Dari loket, saya langsung menuju halaman dalam gedung Lawang Sewu. Diiringi suasana sunyi dan temaram, membuat bulu kuduk saya merinding. Ditambah dengan hembusan angin malam kala itu, membuat saya hampir saja mengurungkan niat untuk masuk ke gerbang dalam Lawang Sewu. Dan yang tak kalah menegangkannya, di halaman tersebut terdengar suara manusia sedang bercakap-cakap namun tidak terlihat adanya orang.

Namun, semua kesan menyeramkan sirna kala sinar cahaya handphone menerangi halaman dalam Lawang Sewu.Ternyata, suara yang muncul dari kegelapan tersebut berasal dari orang-orang yang juga sedang mengagumi dan menikmati pesona malam Lawang Sewu yang terbalut sinar lampu keemasan.

Melangkah secara perlahan dan pasti, saya pun langsung memasuki bangunan Lawang Sewu ini. Dan untuk menjaga diri agar tetap aman, ada baiknya kita membaca aturan yang terpampang di anak tangga sebelum masuk ke dalam bangunan Lawang Sewu. Larangan jangan membuka pintu yang terkunci sebaiknya harus diikuti agar wisata di Lawang Sewu dapat dapat berjalan lancar.

Berada di ruangan kosong dengan dinding berwarna putih yang hampir menguning membuat saya merasakan aura yang berbeda. Apalagi jika menatap lurus ke lorong-lorong yang membentang di dalam ruangan, seakan pikiran kita menerawang bebas ke zaman Belanda kala bangunan ini berdiri dengan megahnya.

Bahkan, keberadaan pintu – pintu kayu kokoh berwarna hitam yang berjajar di sepanjang gedung ini pun menjadi penanda bahwa bangunan ini memang memiliki cerita yang mengagumkan pada zamannya.

Bukti kejayaan lainnya terekam dalam ruangan diorama yang memajang beragam foto – foto tempoe doeloe yang menampilkan kisah para pekerja di dibidang lokomotif perkeretaan. Tidak hanya itu, beberapa seragam pun kerap dipajang dalam etalasenya.

Setelah puas berada di lantai 1, sayapun memberanikan diri untuk naik ke lantai paling atas gedung Lawang sewu. Dari atas ketinggian ini, mata kita bisa melihat pesona Lawang sewu yang menampilkan suasana temaram yang tetap indah dipandang mata.

Usai di lantai ini, saya turun dan memutari bangunan Lawang Sewu. Ternyata, di sisi sebelah kiri pintu masuk, terdapat lokomotif kereta api yang kondisinya masih sangat rapih. Sehingga, tidak jarang dari mereka yang menyempatkan diri untuk berfoto di kereta ini.

Bahkan, keindahan Lawang Sewu di Semarang yang dahulunya terkenal angker pun telah sirna dan kini terlihat memesona dari seberang taman saat malam hari. Hal ini tidak lepas dari  pantulan cahaya lampu jalan yang meneranginya sepanjang malam.

Sebagai informasi, Lawang Sewu atau dalam bahasa Indonesia Pintu Seribu adalah Gedung megah yang dibangun di Era penjajahan Belanda yang dibangun pada 1904. Semula gedung ini untuk kantor pusat perusahaan kereta api (trem) penjajah Belanda atau Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij (NIS). Gedung tiga lantai bergaya art deco (1850-1940) ini karya arsitek Belanda ternama, Prof Jacob F Klinkhamer dan BJ Queendag.

 

 

 

About simpang5

Check Also

Berburu Harta Karun di Pasar Loak

Barang bekas tidak selamanya jelek atau tidak bagus. Jika pandai memilih dan sabar mencari, bisa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *