Home / Fokus / Berburu Harta Karun di Pasar Loak

Berburu Harta Karun di Pasar Loak

Barang bekas tidak selamanya jelek atau tidak bagus. Jika pandai memilih dan sabar mencari, bisa jadi kita akan menemukan barang yang sesuai dengan keinginan kita namun dengan harga yang lebih murah. Bahkan jika jago menawar, harganya bisa sepersepuluh dari harga barang baru.

Banyak barang yang bisa diperoleh dengan kantong cekak, mulai barang-barang bekas milik pribadi, benda antik, tas, kaset, hingga CD bekas. Selain itu ada pula sepatu, alat-alat olahraga, musik dan perlengkapan dapur seperti wastafel, kloset, mesin tik, barang elektronik seperti televisi dan radio. Onderdil kendaraan dari beragam pabrikan pun ada. Di Semarang ada sejumlah lokasi yang bisa dituju untuk berburu ‘harta karun’ ini. Penasaran? Yuks sapa beragam pasar loak yang ada di ibu kota Jawa Tengah tersebut.

Pasar Kokrosono
Terletak di jalan Kokrosono Bulu Lor Semarang, memanjang mengikuti bantaran Kanal Banjir Barat, pasar ini menjadi salah satu lokasi yang wajib dikunjungi jika ingin berburu barang bekas. Setiap pasar loak memiliki ciri tersendiri, khususnya menyangkut barang yang ditawarkan. PKL Kokrosono misalnya, identik dengan barang-barang pertukangan dan barang antik, meski sekarang sudah bercampur dengan berbagai barang yang lain.

Layaknya pasar barang bekas, ada beragam dagangan yang ditawarkan. Mulai telepon genggam, baju, alat elektronik hingga perlengkapan pertukangan. Selain bekas ada juga yang masih baru, meski demikian konsumen tetap harus jeli. Bisa jadi barang baru tersebut merupakan afkiran pabrik.

Jika ingin membeli barang elektronik, jangan ragu untuk mencobanya terlebih dahulu. Umumnya untuk elektro, ada bekas minor yang ditemui. Misalnya aus karena penggunaan, kurang satu tombol atau penutup.

“Saya cukup sering datang ke pasar Kokrosono. Iseng-iseng sambil lihat-lihat barang yang ada, kalau ada yang menarik dan masih ‘bagus’ coba menawar. Harganya sangat terjangkau, beberapa waktu lalu saya dapat recorder digital merek Sonny. Bekas, masih menyala, hanya kurang tutup baterai. Saya tebus Rp 15 ribu, kalau harga baru di toko, harganya bisa ratusan ribu,” terang Saut Hamonangan, salah seorang konsumen.

Penyiar di salah satu radio swasta di Semarang tersebut juga kerap berburu barang antik yang menjadi kegemarannya, di pasar tersebut. Dirinya mengaku ada kesenangan tersendiri saat mendapatkan barang yang tidak disangka-sangka. “Seperti saya pernah dapat tempat lilin dari perak. Ditawarkan Rp 60 ribu, ditawar jadi Rp 35 ribu. Harga barunya sekitar Rp 400 ribu – Rp 500 ribu. Kondisinya memang kusam karena barang bekas dan ditumpuk-tumpuk, tapi setelah dibersihkan jadi bagus lagi,” lanjutnya

“Ada banyak barang yang bisa didapat di pasar loak. Kuncinya harus teliti, sabar dan tahan panas matahari, sebab banyak pedagang yang menggelar dagangan di pinggir jalan,” tambahnya lagi sembari tertawa.

Pasar Barito
Menjadi sentra barang bekas khusus mesin dan onderdil kendaraan terbesar di Kota Semarang, pasar Barito sudah melegenda. Terletak di jalan Barito Bugangan Semarang Timur atau sepanjang bantaran Banjir Kanal Timur, ada ratusan pedagang yang menggelar lapak. Sering kali para penghobi kendaraan atau masyarakat yang menjadikan pasar ini, menjadi barometer dalam mencari onderdil.

Sebut saja, barang yang diinginkan maka penjual akan mencarikan diantara tumpukan mesin dan onderdil yang ada. Selain itu juga barang-barang lain yang berkaitan dengan kendaraan, misalnya velg hingga variasi mobil dan motor.

“Jumlah pedagang disini ada sekitar 800-an, kalau ragam barang yang dijual bisa ribuan. Hampir semuanya ada, mulai dari yang bekas sampai yang baru. Biasanya, kita beli kendaraan yang sudah tidak dipakai atau rusak, kemudian dibongkar. Kendaraan resmi lho, ada surat-suratnya. Setelah itu onderdilnya dijual. Ada juga yang nyetor (menyuplai-red) dari pengepul,” terang Warsito, salah seorang pedagang.

Selain Pasar Barito, untuk onderdil dan mesin kendaraan bekas juga bisa ditemukan di Pasar Waru, Sawah Besar Kaligawe Semarang. Disatu sisi, di pasar yang memanjang sepanjang hampir tiga kilometer tersebut, konsumen juga bisa berburu keramik dan perlengkapan kamar mandi, serta kerajinan dari seng dan ban bekas.

Produk keramik dan perlengkapan kamar mandi seperti toilet jongkok dan duduk hingga wastafel yang ditawarkan, rata-rata merupakan bekas pakai. Umumnya produk tersebut sudah dibersihkan sehingga pembeli bisa langsung menggunakannya.

“Rata-rata kalau keramik didapat dari pengepul. Biasanya mereka dapat dari bongkaran rumah. Ada rumah yang dibongkar, barang-barang yang ada seperti keramik, wastafel hingga toilet dipisahkan. Selanjutnya dijual lagi ke pengepul,” papar Ardiansyah, pedagang.

Keberadaan barang-barang bekas tersebut diakui cukup membantu masyarakat, yang ingin membangun rumah atau merenovasi namun dengan dana yang terbatas. “Ada banyak barang yang ditawarkan, jadi lihat-lihat dulu mungkin ada yang cocok. Soal harga memang lebih terjangkau dibandingkan beli baru di toko,” papar Titi Damayanti, seorang konsumen.

Layaknya barang bekas lainnya, konsumen harus teliti dalam memilih barang. Misalnya di cek ada tidaknya sudut yang pecah, atau bekas perbaikan. Umumnya harga yang ditawarkan berbeda-beda, tergantung kondisi produk yang ada.

Pasar Awul-awul
Pernah dengar istilah pasar awul-awul? Ya, ini penamaan tersebut erat kaitannya dengan produk yang dijualnya, yakni baju bekas. Seringkali saat memilih produk, konsumen membolak-balik atau ngawul-ngawul (Jawa-red) baju yang ditumpuk, lambat laun penamaan pasar awul-awul pun muncul.

Hampir disetiap titik keramaian ada pedagang awul-awul, namun yang paling ramai berada di depan Stadion Diponegoro Jalan Mangunsarkoro Semarang. Uniknya pasar ini hanya buka pada hari Minggu saja. Maka bisa dipastikan, setiap kali pasar tersebut membuka dagangan, ratusan konsumen datang untuk melihat-lihat hingga bertransaksi.

Beragam pakaian bisa ditemukan disini, mulai dari jas, kemeja, baju, kaos, tshirt, rok hingga gaun. Soal harga pun tidak menjadi masalah. Jaket kulit yang kondisinya masih bagus bisa ditebus dengan harga Rp 100 ribu. Coba bandingkan dengan harga baru yang bisa tiga kali lipatnya. Demikian juga dengan jas, jika di toko harga rata-rata diatas Rp 500 ribu, di pasar awul-awul bisa didapat rentang harga Rp 100 ribu – Rp 150 ribu. ***

 

About simpang5

Check Also

Serunya Eduwisata Bermain Sembari Belajar

Siapa bilang berwisata tidak bisa sembari belajar? Jika tidak percaya, coba tengok Eduwisata yang ditawarkan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *