Home / Fokus / Bertarung Melawan Ikan ‘Monster’ di Laut Dalam

Bertarung Melawan Ikan ‘Monster’ di Laut Dalam

Memancing di laut lepas tidak sekedar hobi untuk melepas lelah hingga menenangkan pikiran dari kegiatan sehari-hari, namun mampu memberikan sensasi tarikan saat umpan disambar ikan ‘monster’. Perjuangan hingga berjam-jam saat menarik ikan, mampu memacu adrenalin. Tak heran, meski relatif mahal, hobi yang satu ini memiliki banyak penggemar.

Salah satunya, Unggul Boga. Pengusaha asal Semarang ini sudah lebih dari lima tahun menggeluti hobi memancing di laut lepas. “Memancing di laut lepas atau di sungai, sebenarnya tidak jauh berbeda. Kita mesti bersabar, menunggu lama hingga ikan memakan umpan. Bedanya, sensasi tarikannya,” paparnya.

Dibanding ikan air tawar, ukuran ikan ‘monster’ di laut lepas memang jauh berbeda. Tarikannya pun lebih terasa, tak jarang pemancing harus berjuang cukup lama sebelum menaklukan ikan sasaran.

Seperti ikan Giant Travelli (GT) hingga ikan layaran atau biasa disebut sailfish, yang kerap menjadi incaran pemancing. Ikan GT atau Kuwe Gerong ini, mudah sekali dikenali dari warna tubuh keperakan semburat kuning, dengan bentuk kepala berdahi besar. Ukurannya pun sangat besar, dengan panjang mencapai 170 cm dan berat 80 kg.

Untuk memenuhi hobinya tersebut, tidak jarang dirinya harus menempuh jarak hingga ratusan kilometer. Beberapa spot memancing terbaik di nusantara pun sudah dikunjunginya. Salah satunya di kawasan Nusa Tenggara Barat (NTB). “Ada beberapa teman yang memiliki hobi yang sama. Kita sering bikin event untuk mancing bersama-sama, selain lebih seru, ongkos yang dikeluarkan juga bisa gotong royong,” paparnya sembari tertawa.

Meski relatif mahal, namun Boga memastikan bahwa keseruan dan sensasi saat umpan disambar ikan, sebanding dengan ongkos yang dikeluarkan. “Sebenarnya, ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari memancing. Salah satunya kesabaran, sebab tidak selalu dapat ikan dan bisa berjam-jam baru mendapat sambaran,” lanjutnya.

Kedua, perencanaan yang baik. Saat memancing perlu rencana yang matang, seperti titik lokasi, waktu yang sesuai hingga manajemen persiapan alat pancing. Hal ini penting agar proses memancing bisa berjalan sesuai rencana.

Misalnya saja joran hingga reel atau penggulung benang. Piranti pancing yang cocok untuk ikan laut dalam seperti joran berkekuatan medium hingga besar, sedangkan untuk reel minimal berdaya 90 lb untuk mengantisipasi mendapatkan ikan yang lebih besar.

Sementara untuk teknik memancing yang tepat. Menurut Boma, ada beberapa teknik yang populer namun umumnya menggunakan teknik jigging dan teknik popping. Jigging digunakan untuk memancing ikan dasaran, dengan menggunakan umpan metal jig. “Caranya dengan menenggelamkan umpan hingga ke dasar laut, kemudian menariknya kembali sambil dihentakan untuk menarik perhatian ikan predator. Sementara, untuk teknik popping menggunakan umpan tiruan. Caranya cukup dilempar sejauh mungkin dari kapal. Teknik popping ini membuat umpan masih mengapung di permukaan air dan menarik perhatian ikan di permukaan,” tandasnya.

Jenis umpan tiruan pun bermacam-macam, baik dari segi bahan atau bentuk. Umumnya dikelompokkan berdasar bermacam karakteristik, seperti berdasarkan bahan baku dan asesoris dalam pembuatannya, serta berdasar teknik mancing dan fungsi terkait teknik mancingnya.

Dirinya mencontohkan umpan mancing berbahan baku logam atau metal jig, softlure berbahan dasar silikon atau karet serta non logam-non plastik, biasanya terbuat dari kayu, resin atau bahan hardlure lainnya. Bentuknya pun bermacam-macam, mulai dari bentuk minnow atau ikan kecil, froggy atau kodok, ikan sarden, udang, hingga cumi-cumi.

Selain itu juga ada teknik menggunakan umpan hidup atau menyebar umpan di sekeliling titik lokasi. “Untuk teknik yang terbaik, jangan malu bertanya kepada nelayan sekitar. Mereka ini sudah mengenal kondisi lapangan sehingga relatif lebih tahu,” lanjutnya lagi.

Terlepas dari berbagai keseruan memancing di laut dalam, dirinya ingin menegaskan tentang kesadaran pemancing untuk melepas kembali ikan yang sudah diperoleh. Hal tersebut tidak terlepas dari upaya pelestarian. “Ikan GT ini perkembangannya termasuk lambat, demikian juga dengan ikan layaran. Memang meski awalnya terasa berat, karena dengan segala perjuangan hingga ongkos yang dikeluarkan, namun ketika mendapat ikan harus dilepaskan kembali. Namun ini menjadi bagian dari kesadaran kita untuk menjaga agar ikan ini tidak sampai punah,” pungkasnya.***

 

About simpang5

Check Also

Serunya Eduwisata Bermain Sembari Belajar

Siapa bilang berwisata tidak bisa sembari belajar? Jika tidak percaya, coba tengok Eduwisata yang ditawarkan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *