Home / Fokus / Menilik Sejarah Kota Semarang

Menilik Sejarah Kota Semarang

Pada 2 Mei 2017, Kota Semarang berulang tahun ke-470. Beragam perkembangan dan kemajuan sudah dilakukan, dalam bidang pembangunan, pelayanan publik hingga kesejahteraan masyarakat. Hal tersebut dibuktikan diterimanya berbagai penghargaan bagi Kota Semarang.

Terlepas dari itu, sejarah Kota Semarang tidak bisa dilepaskan dari sosok sang pendiri, Kyai Ageng Pandan Arang I atau Ki Ageng Pandanaran dan Kyai Pandan Arang II atau Sunan Bayat atau Sunan Pandanaran.

Sejarah Kota Semarang berawal kurang lebih pada Abad ke-8 M, yaitu daerah pesisir yang bernama Pragota dan merupakan bagian dari kerajaan Mataram Kuno. Kawasan Bergota yang saat ini masuk Kelurahan Randusari, Semarang saat lebih dikenal sebagai areal pemakaman terbesar di Kota Semarang, bersebelahan dengan Pasar Randusari yang identik dengan pasar kembang.

Jika ditilik ke belakang, daerah tersebut pada masa itu merupakan pelabuhan dan di depannya terdapat gugusan pulau-pulau kecil. Akibat pengendapan, yang hingga sekarang masih terus berlangsung, gugusan tersebut sekarang menyatu membentuk daratan.

Sementara, kawasan lautan dulu sekarang ini menjadi daerah Semarang bawah. Pelabuhan Kota Semarang pada masa itu diperkirakan, sekarang ini berada di daerah Pasar Bulu memanjang masuk ke Pelabuhan Simongan, tempat armada Laksamana Cheng Ho bersandar pada tahun 1405 M. Di tempat pendaratannya, Laksamana Cheng Ho ini sekarang dikenal dengan Klenteng Sam Poo Kong.

Seiring perkembangan perekonomian saat itu sebagai kota pelabuhan, wilayah yang kemudian masuk dalam kekuasaaan Kerajaan Demak, sehingga diutus seorang perwakilan kerajaan untuk menyebarkan agama Islam dari perbukitan Pragota. Sebagai pendiri desa, wilayah tersebut terus berkembang kemudian menjadi kepala daerah setempat, dengan gelar Kyai Ageng Pandan Arang I.

Konon dari sini juga muncul asal usul nama Kota Semarang. Dikisahkan, di wilayah tersebut tumbuh berbagai macam pohon, termasuk pohon Asam Jawa, hingga kemudian disebut Semarang. Berasal dari kata Asem Arang, yang kurang lebih artinya pohon asam yang tumbuhnya jarang-jarang atau sedikit.

Sepeninggal beliau, pimpinan daerah dipegang oleh putranya yang bergelar Pandan Arang II, yang kelak akan dikenal sebagai Sunan Bayat atau Sunan Pandanaran. Dibawah pimpinan Pandan Arang II, daerah Semarang semakin menunjukkan pertumbuhannya yang meningkat, sehingga menarik perhatian Sultan Hadiwijaya dari Pajang. Karena persyaratan peningkatan daerah dapat dipenuhi, maka diputuskan untuk menjadikan Semarang setingkat dengan Kabupaten.

Disebutkan dalam Wikipedia.org, penetapan tersebut dilakukan pada 2 Mei 1547 bertepatan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal tahun 954 H. Tanggal 2 Mei ini kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kota Semarang.

Ada juga versi yang menyebutkan bahwa hari jadi kota Semarang diambil dari, tanggal pengangkatan Ki Ageng Pandanaran sebagai adipati Adipati pertama Semarang. Ki Ageng Pandanaran dinilai sebagai pelopor berdirinya kota Semarang. Kota Semarang waktu itu merupakan salah satu pusat penyiaran agama Islam dan menjadi bagian dari Kerajaan Demak. Dengan adanya penyiaran agama Islam menarik orang untuk juga berdatangan baik untuk bermukim maupun berdagang di Semarang sehingga wilayah ini menjadi ramai.

Ki Ageng Pandanaran meninggal pada 1496, dan kini makam beliau berada di Jalan Mugas Dalam II / 4 kelurahan Randusari Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang. Makam ini sering dikunjungi peziarah, terutama pada acara khol meninggalnya beliau. Tidak hanya itu, setiap peringatan HUT Kota Semarang, pejabat Walikota Semarang juga menggelar ziarah ke malam Ki Ageng Pandanaran dan makam Sunan Bayat atau Sunan Pandanaran yang berada di Kecamatan Bayat, Klaten, Jateng.

Seiring waktu dengan masuknya VOC Belanda ke Indonesia, atas perjanjian Kerajaan Mataram dengan VOC, pada 1705, Semarang resmi menjadi kota milik VOC dan kemudian Pemerintah Hindia Belanda. Kemudian, di tahun 1906 dengan Stanblat Nomor 120 tahun 1906 dibentuklah Pemerintah Gemeente. Pemerintah kota besar ini dikepalai oleh seorang Burgemeester (Walikota).

Pasca kemerdekaan Indonesia 1945, sistem tersebut masih diadopsi. Sejak tahun 1945 para walikota yang memimpin kota besar Semarang, kemudian menjadi Kota Praja dan akhirnya menjadi Kota Semarang yakni Moch lchsan, Koesoebiyono Tjondrowibowo (1949–1 Juli 1951), RM Hadisoebeno Sosrowerdoyo (1 Juli 1951–1 Januari 1958), Mr Abdulmadjid Djojoadiningrat (7 Januari 1958–1 Januari 1960), RM Soebagyono Tjondrokoesoemo (1 Januari 1961–26 April 1964), Mr Wuryanto (25 April 1964–1 September 1966), Letkol Soeparno (1 September 1966–6 Maret 1967), Letkol R Warsito Soegiarto (6 Maret 1967–2 Januari 1973), Kolonel Hadijanto (2 Januari 1973–15 Januari 1980), Kol Iman Soeparto Tjakrajoeda SH (15 Januari 1980–19 Januari 1990), Kolonel Soetrisno Suharto (19 Januari 1990–19 Januari 2000), Sukawi Sutarip (19 Januari 2000–2010), Soemarmo (2010–2013) dan Hendrar Prihadi (2013-sekarang). ***

About simpang5

Check Also

nasmoco

Nasmoco Melantai di Bursa Saham

PT Industri dan Perdagangan Bintraco Dharma Tbk (Bintraco), selaku pemilik jaringan Nasmoco Group dealer resmi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *