Home / Fokus / WO Ngesti Pandowo Tetap Bertahan di Tengah Gempuran Era Digital

WO Ngesti Pandowo Tetap Bertahan di Tengah Gempuran Era Digital

Sejarah Kota Semarang tidak bisa lepas dari Wayang Orang (WO) Ngesti Pandowo. Keberadaannya sebagai salah satu ikon budaya, sangat diakui. Dahulu belum disebut berkunjung ke Semarang jika tidak menonton pementasan kesenian tersebut.

Kelompok kesenian wayang orang ini mengalami masa kejayaan mulai pertengahan 1950-an hingga dekade 1980-an, terutama ketika masih pentas di Gedung Rakyat Indonesia Semarang (GRIS) Jl Pemuda. Sesudah digusur dari GRIS pada 1996, kelompok itu kian surut.

Sejarah mencatat, GRIS ini dahulunya, merupakan tempat hangout para meneer dan mevrof  Belanda pada era kolonial. Bernama awal Societeit de Harmonie, atau biasa disebut gedung Harmonie. Gedung ini kemudian dijual ke Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM).

Masyarakat Semarang waktu itu saling iuran untuk membeli lahan di samping Gedung Harmonie, untuk kemudian dijadikan Gedung Rakyat Indonesia Semarang (GRIS). Tahun 1950, masyarakat Semarang membeli Gedung Harmonie, dengan cara iuran sedikit demi sedikit. Pembayaran gedung dilaksanakan dua kali, sebelum akhirnya lunas dan jadi milik rakyat Semarang. Gedung GRIS kemudian menjadi pusat hiburan warga saat itu. Salah satu hiburan yang jadi favorit masyarakat yakni WO Ngesti Pandawa. Gedung ini sekarang sudah dirubuhkan dan berganti menjadi pusat perbelanjaan.

Kembali ke kesenian WO Ngesti Pandowo. Keberadaan seni wayang orang tersebut tidak terlepas dari peran seniman kawakan seperti Sastro Sabdho, Narto Sabdho, Darso Sabdho, Kusni, dan Sastro Soedirjo. Mereka ini menjadi lokomotif penggerak di awal pembentukan. Ngesti Pandowo didirikan oleh Sastro Sabdo pada 1 Juli 1937, di Madiun. Tujuan didirikannya, untuk membangkitkan kembali kehidupan wayang orang panggung. Selain itu, juga untuk melestarikan wayang orang yang mulai dilupakan masyarakat, serta menanamkan rasa cinta pada seni tradisi. Pertunjukan wayang orang juga memberikan hiburan pada masyarakat.

Layaknya pemain kesenian, WO Ngesti Pandowo sering pentas keliling (tobong-red) di berbagai daerah, termasuk di Semarang. Walikota Semarang saat itu, sekitar 1950-an, Hadi Supeno, rupanya tertarik dengan kepiawaian pemain Ngesti Pandowo, saat membawakan peran di atas pentas. Didasari kecintaannya akan budaya lelulur dan mencegah Ngesti Pandowo berkeliling, Walikota kemudian membangunkan GRIS untuk aktivitas berkesenian. Termasuk sebagai lokasi pentas WO Ngesti Pandowo.

Pada tahun 1954, Ngesti Pandowo menempati gedung baru di kompleks GRIS, dan mengalami masa puncak kejayaan di bawah kepemimpinan Sastro Sabdo dan Narto Sabdo. Grup tersebut bahkan dijadikan rujukan dan panutan bagi perkumpulan wayang orang yang ada pada jamannya. Teknik dekorasi, iringan, kostum, koreografi, dan trik panggung menjadi acuan bagi perkumpulan wayang orang lainnya untuk belajar di Ngesti Pandowo. Sayangnya, seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan masyarakat, wayang orang mulai ditinggalkan penggemarnya. Oleh karena itu, banyak perkumpulan tersebut yang mengalami kemunduran dan akhirnya “gulung tikar”. Di Indonesia, pada masa sekarang ini, hanya ada tiga perkumpulan wayang orang yang masih tetap eksis. Ketiga perkumpulan wayang orang tersebut yaitu Bharata Jakarta, Sriwedari Surakarta, dan Ngesti Pandowo Semarang.

Khusus di Kota Semarang, duhulu ada beberapa perkumpulan wayang orang, yaitu Sri Wanita, Sri Wijaya, Wahyu Budaya, Dharma Muda, dan Ngesti Pandowo. Namun, sekarang ini hanya Ngesti Pandowo yang masih tetap bertahan dan secara rutin melakukan pementasan di Gedung Ki Narto Sabdho, kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Semarang, tiap Sabtu malam. Pada event-event tertentu, mereka juga masih pentas di luar. Meski berganti generasi, namun keindahan gerak, solah, bawa, ataupun patrap ketika manggung tetap terjaga. Semangat juang WO Ngesti Pandowo juga tidak pernah padam.***

Awards

1. Piagam penghargaan dari Pasar Malam Orange Belanda (1937)
2. Piagam Widjajakusuma dari Presiden RI Ir,Soekarno (1962)
3. Penghargaan dari Gubernur Jawa Tengah, Supardjo Rustam: Juara 1 lomba ketoprak Se-JaTeng (1977)
4. Penghargaan dari LPP RRI Semarang tentang Partisipasi Aktif Sebagai Pengisi Siaran LPP RRI Semarang (2006)
5. Penghargaan dari Universitas Soegijopranata Semarang tentang Pentas Bersama W.O.Ngesti Pandowo, dalam rangka Dies Natalis XXVII (2009)
6. Penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) tentang Pemrakarsa dan Penyelenggara Pagelaran Wayang Orang Ngesti Pandowo selama 70 tahun berturut turut (2007)

About simpang5

Check Also

nasmoco

Nasmoco Melantai di Bursa Saham

PT Industri dan Perdagangan Bintraco Dharma Tbk (Bintraco), selaku pemilik jaringan Nasmoco Group dealer resmi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *